13 November 2012

Protozoa


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Parasitologi Adalah ilmu yang berisi kajian tentang organisme (jasad hidup), yang hidup di rmukaan atau di dalam tubuh organisme lain untuk sementara waktu atau selama hidupnya, dengan cara mengambil sebagian atau seluruh fasilitas hidupnya dari organisme lain tersebut, hingga organisme lqin tersebut jadi merugi (dirugikan). Organisme ini disebut : parasit. Organisme lain atau organisme yang mengandung parasit di sebut hospes (tuan rumah).
Dalam parasitogi, yang paling penting di pelajari alah zoo parasit yang terdiri dari : protozoologi, helmintologi, entomologi,
Dari hubungyang terjadi antara parasit dan hospes dapat terjadi hubungan hubungna yang di sebut sebagai:
-          Parasitisme : hubungan dua organisme, yang satu diantaranendapatkan keuntungan dan yang lain di rugikan.
-          Mutualisme : hubungan dua organisme yang kedia organisme ini saling mendapat keuntungan satu sama lain.
-          Komensalisme : hubungan dua organisme, yang satu organisme diuntungkan dan yang lain tidak di rugikan maupun diuntungkan.
-          Simbiosis : hubungan pernen antara dua organisme, dimana kedua belah pihak saling menguntungkan dan tidak bisa hidup sendiri-sendiri atau tidak dapat hidup terpisah.
Dalam penelitian Protozoa memiliki arti protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk berfotosintesa. Semua spesies Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien komplek tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan memasukkannya ke dalam filum protozoa. Contohnya strain mutan algae genus Chlamydomonas yang tidak berklorofil, dapat dimasukkan ke dalam kelas Protozoa genus Polytoma.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan membahas tentang:
A. Pengertian Protozoa
B. Karakteristik Protozoa
C. Siklus Hidup Protozoa
D. Epidemiologi Protozoa
            E. Kegunaan dan Kerugian Protozoa
C. Tujuan Perumusan Masalah
Dalam makalah ini kita dapat mempelajari apa itu protozoa, karakteristik protozoa, siklus hidup protozoa, epidermiologi protozoa, kegunaan dan kerugian protozoa lebih dalam lagi.







BAB II
ISI

A. Pengertian protozoa
Protozoa secara umum dapat dijelaskan bahwa protozoa adalah berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos artinya pertama dan zoon artinya hewan. Jadi,Protozoa adalah hewan pertama. Protozoa merupakan kelompok lain protista eukariotik. Kadang-kadang antara algae dan protozoa kurang jelas perbedaannya. Kebanyakan Protozoa hanya dapat dilihat di bawah mikroskop. Beberapa organisme mempunyai sifat antara algae dan protozoa. Sebagai contoh algae hijau Euglenophyta, selnya berflagela dan merupakan sel tunggal yang berklorofil, tetapi dapat mengalami kehilangan klorofil dan kemampuan untuk berfotosintesa. Semua spesies Euglenophyta yang mampu hidup pada nutrien komplek tanpa adanya cahaya, beberapa ilmuwan memasukkannya ke dalam filum protozoa. Contohnya strain mutan algae genus Chlamydomonas yang tidak berklorofil, dapat dimasukkan ke dalam kelas Protozoa genus Polytoma. Hal ini merupakan contoh bagaimana sulitnya membedakan dengan tegas antara algae dan protozoa. Protozoa dibedakan dari prokariot karena ukurannya yang lebih besar, dan selnya eukariotik. Protozoa dibedakan dari algae karena tidak berklorofil, dibedakan dari jamur karena dapat bergerak aktif dan tidak berdinding sel, serta dibedakan dari jamur lendir karena tidak dapat membentuk badan buah. Merupakan filum hewan bersel satu yang dapat melakukan reproduksi seksual (generatif) maupun aseksual (vegetatif).Habitat hidupnya adalah tempat yang basah atau berair. Jika kondisi lingkungan tempat hidupnya tidak menguntungkan maka protozoa akan membentuk membran tebal dan kuat yang disebut Kista. Ilmuwan yang pertama kali mempelajari protozoa adalah Anthony van Leeuwenhoek.
B. Karakteristik Protozoa
1. Umumnya tidak dapat membuat makanan sendiri  (heterotrof)
2. Protozoa memiliki alat gerak yaitu ada yang berupa kaki semu, bulu getar (cillia) atau bulu cambuk (flagel)
3. Hidup bebas, saprofit atau parasit
4. Organisme bersel tunggal.
5. Eukariotik atau memiliki membran nukleus/ berinti sejati.
6. Hidup soliter (sendiri) atau berkoloni (kelompok)
7. Dapat membentuk sista untuk bertahan hidup. sista, merupakan bentuk sel protozoa yang terdehidrasi dan berdinding tebal mirip dengan endospora yang terjadi pada bakteri
8. Protozoa mampu bertahan hidup dalam lingkungan kering maupun basah
9. Protozoa tidak mempunyai dinding sel
10. Protozoa merupakan organisme mikroskopis yang prokariot

Protozoa dapat dijumpai di parit, sawah, sungai, bendungan, air laut, bahkan ada yang hidup dalam makhluk hidup lain. Protozoa berkembang biak dengan dua cara, yaitu secara aseksual dengan membelah diri atau membentuk spora, dan secara seksual dengan konjugasi.
Berdasarkan alat geraknya, protozoa dikelompokkan menjadi empat filum yaitu sebagai berikut:
1. Filum Rhizopoda (Sarcodina)
Ciri-ciri Rhizopoda sebagai berikut:
a.       Tidak memiliki bentuk yang tetap.
Bergerak dan menangkap makanannya dengan kaki semu (pseudopodia) yang merupakan penjuluran sitoplasma tubuhnya. Rhizopoda bergerak dengan menjulurkan kaki semunya untuk berpindah tempat.
b.      Ada yang hidup bebas di alam dan ada yang parasit.
c.       Makanannya berupa bakteri atau bahan organik lain.
d.      Berkembang biak dengan membelah diri.
e.       Contoh anggota Rhizopoda adalah Amoeba sp., Foraminifera yang digunakan sebagai petunjuk dalam penyelidikan tanah yang mengandung minyak bumi, dan Radiolaria yang membentuk tanah radiolaria yang bermanfaat sebagai alat penggosok.

.

2. Filum Fagellata (Mastigophora)
Filum Flagellata memiliki ciri khas yaitu memiliki alat gerak berupa bulu cambuk (flagela) yang berstruktur mirip cambuk yang panjang. Bulu cambuk ini digunakan dengan mencambukkan bulu cambuk ke arah yang diinginkan dan menggunakannya untuk memindahkan dirinya sendiri.
Contoh Flagellata adalah Trypanosoma sp. yang hidup secara parasit dalam darah manusia dan vertebrata lainnya, berkembang biak dengan membelah diri, dan menyebabkan penyakit tidur pada manusia. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan lalat tse-tse (Trypanosoma Brucei).
3. Filum Ciliata (Cilliophora)
Ciliata bergerak dengan bulu getar (silia) yang selalu bergetar untuk mendorong tubuhnya ke arah yang diinginkan seperti gerakan mendayung perahu. Selain itu, silia bisa digunakan untuk mengambil makanan.Ciliata berkembang biak secara vegetatif (aseksual) dengan membelah diri dan secara generatif (seksual) dengan cara konjugasi.
Contoh Ciliata adalah Paramaecium sp. Paramaecium disebut juga hewan sandal, karena bentuknya menyerupai telapak sandal. Terdapat mulut sel pada permukaan membrane sel yang melekuk. Air dan makanan masuk ke mulut sel dengan getaran silia. Makanan yang masuk ke mulut sel lalu masuk ke kerongkongan sel, lalu ke vakuola makanan. Vakuola makanan beredar dalam sel sambil mencerna makanan. Sisa makanan berbentuk cair dikeluarkan melalui vakuola berdenyut/vakuola kontraktil, sementara sisa makanan berbentuk padat dikeluarkan melalui vakuola makanan yang pecah saat menepi ke membran sel. Contoh Ciliata yang lain adalah Vorticella dan Stentor.

4. Filum Sporozoa
Filum ini berbeda dengan filum sebelumnya—anggota filum ini tidak mempunyai alat gerak. Disebut Sporozoa karena dalam tahap tertentu dalam hidupnya, dapat membentuk sejenis spora. Biasanya hidup sebagai parasit pada tubuh hewan maupun manusia. Contoh anggota Sporozoa adalah Plasmodium sp., penyebab penyakit malaria. Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles sp.
C. Siklus Hidup Protozoa    
1.   Sebagian besar Protozoa berkembang biak secara aseksual (vegetatif) dengan cara:
a.       Pembelahan mitosis (biner), yaitu pembelahan yang diawali dengan pembelahan inti dan diikuti pembelahan sitoplasma, kemudian menghasilkan 2 sel baru.Pembelahan biner terjadi pada Amoeba. Paramaecium, Euglena. Paramaecium membelah secara membujur atau memanjang setelah terlebih dahulu melakukan konjugasi.Euglena membelah secara membujur /memanjang (longitudinal).

b.      Perkembangbiakan aseksual pada kelas Sporozoa (Apicomplexa) dengan membentuk spora melalui proses sporulasi di dalam tubuh nyamuk Anopheles. Spora yang dihasilkan disebut sporozoid.

2.         Perkembangbiakan secara seksual pada Protozoa dengan cara :
Konjugasi. Peleburan inti sel pada organisme yang belum jelas alat kelaminnya. Pada Paramaecium mikronukleus yang  sudah dipertukarkan akan melebur dengan makronukleus, proses ini disebut singami. Peleburan gamet Sporozoa (Apicomplexa) telah dapat menghasilkan gamet jantan dan gamet betina. Peleburan gamet ini berlangsung di dalam tubuh nyamuk.

D. Epidermiologi Protozoa
            Penyebaran protozoa terjadi karena adanya vektor serangga. Serangga sebagai vektor beberapa penyakit yaitmalaria, tripanosoma, leishmania.

1.      Vektor Malaria
Sebagai vektor penyakit yang di sebabkan oleh protozoa, yang terting nyamuk yang berperan sebagai vektor penyakit malaria yaitu nyamuk Anophelini.
Untuk menentukan apakah nyamuk Anophelini yang hidup di alam bebas berfungsi sebagai vektor malaria adalah dengan jalan menemukan stadium sporozoit dari plasmodium di kelenjar liur nyamuk. Cara untuk menemukan sporozoit ini dengan membedah nyamuk betina.

2.      Vektor Tripanosomiasis
Ada beberapa vektor tripanosomiasis yaitu :
a.       Vektor Tripanosomiasis Afrika
b.      Vektor Tripanosomiasis Amerika


3.      Vektor Leishmaniasis
Leishmaniasis adalah penyakit yang di kenal dengan kala azar yang disebabkan oleh Leishmana tropika L,




E. Kegunaan dan Kerugian Protozoa
1. Kegunaan Protozoa
a. Mengendalikan populasi Bakteri, sebagian Protozoa memangsa Bakteri sebagai makanannya, sehingga dapat mengontrol jumlah populasi Bakteri di alam.
b. Sumber makanan ikan, Di perairan sebagian Protozoa berperan sebagai plankton (zooplankton)  dan benthos yang menjadi makanan hewan air, terutama udang, kepiting, ikan, dll.
c. Indikator minyak bumi, Fosil Foraminifera menjadi petunjuk sumber minyak, gas, dan mineral.
d. Bahan penggosok, Endapan Radiolaria di dasar laut yang membentuk tanah radiolaria, dapat dijadikan sebagai bahan penggosok.

2. Kerugian Protozoa
Protozoa menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan ternak. Penyakit-penyakit yang disebabkan Protozoa antara lain :
No
Jenis Penyakit
Protozoa
1
Disentri
Entamoeba Histolytica
2
Diare (Balantidiosis)
Balantidium Coli
3
Penyakit Tidur (Afrika)
Trypanosoma Gambiense
4
Toksoplasmosis (kematian janin)
Toxoplasma Gondii
5
Malaria Tertiana
Plasmodium Vivax
6
Malaria Quartana
Plasmodium Malariae
7
Malaria Tropika
Plasmodium Falciparum
8
Kalaazar
Leishmania Donovani
9
Surra (hewan ternak)
Tripanosoma Evansi


BAB III
PENYELESAIAN MASALAH
          Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh protozoa dapat dicegah, salah satunya dengan cara menjaga kebersihan lingkungan  tempat hidup, dengan selalu rutin membersihkan tempat tinggal. Memberikan vaksinasi terhadap hewan ternak dan manusia.
         

















BAB IV
PENUTUP

Dari tugas makalah tersebut, banyak hal yang dapat kita pelajari. Seperti halnya yang sudah kami harapkan dan sampaikan pada kata pengantar tugas makalah ini, yaitu semoga dengan terselesaikannya makalah ini dapat menambah wawasan kita dan pemahaman kita mengenai   Protozoa
            Dan demikian makalah yang dapat kami buat. Apabila ada kata-kata yang kurang berkenan di hati atau belum sesuai dengan apa yang Anda harapkan, kami mohon maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun kami agar dalam tugas-tugas selanjutnya,kami dapat menyelesaikannya dengan lebih baik lagi.


A. Kesimpulan
            Protozoa merupakan makhluk mikroorganisme. Protozoa adalah protista mirip hewan. Makanan protozoa berupa bakteri atau protozoa lain dan absorpsi nutrisi dari lingkungannya. Protozoa menempati habitat pada bermacam-macam tipe perairan.  Protozoa mempunyai 4 kelompok taksonomi, yaitu: flagellate,  Amoeba, Ciliata, dan Apikomplexan.

B. Saran

            Selalu jaga kebersihan, kesehatan, karena penyakit apapun selalu bisa di cegah.











DAFTAR PUSTAKA

IPA-Biologi Bilingual kelas VII, Penerbit Yrama

Penetapan Kadar Air


                                       
PENETAPAN KADAR AIR



Penetapan kadar air dengan cara titrasi dapat dilakukan karena larutan sulfur-dioksida dan iodum dalam piridina dan dalam etanol (95%) dapat bereaksi dengan air secara stokhiometris. Dalam larutan tidak berwarna, titik akhir dapat ditetapkan secara elektrik atau dengan cara  pengamatan mata. Dalam larutan berwarna , tidak dapat di gunakan pengamatan titik akhir dengan mata. Untuk maksud ini alat elektris yang diperlukan adalah yang mempunyai potensial lebih kurang 200 mV antara sepasang eletrode platina yang dicelupkan ke dalam larutan yang dititrasi. Pada titik akhir titrasi, sedikit pereaksi yang berlebih akan menaikan arus antara 50 dan 150 mikroamper selama 30 detik sampai 30 menit, tergantung dari larutan uji. Waktu yang diperlukan akan menjadi pendek jika zat uji larut dalam pereaksi. Pelarut yang digunakan biasanya adalah methanol mutlak P.
Kecuali dinyatakan lain, penetapan kadar air dilakukan dengan cara titrasi.

A . CARA TITRASI

Alat  Buret otomatik terdiri dari 1 atau 2 buah kapasitas 10 ml, 25 ml , atau 50 ml, yang dihubungkan dengan pencadang larutan iodosulfur dan pencadang pelarut yang dilengkapi dengan tabung pengering.
Labu  titrasi Labu kapasitas lebih  kurang 60 ml  dilengkapi 2 elektrode platina, pipa air nitrogen, sumbat berlubang untuk ujung buret dan tabung pengering.
 Pengaduk  Pengaduk magnetik

Rangkaian alat Labu titrasi dan buret otomatik termasuk tabung pencadang seluruhnya merupakan sistem tertutup.



Pereaksi Larutan iodosulfur , pereaksi Karl Fischer .Tambahkan 125 g iodum P ke dalam campuran 670 ml metanol  P dan 170 ml piridina mutlak P dinginkan. Masukan 100 ml piridina mutlak P ke dalam gelas ukur-250 ml. Dinginkan dalam es. Alirkan belerangdioksida P kering hingga volume bertambah menjadi 200 ml. Tambahkan larutan ini perlahan-lahan sambil dikocok kedalam campuran iodum yang didinginkan, kocok hingga iodum larut . Pindahkan larutan kedalam pencadang , biarkan selama 1 malam sebelum dibakukan. 1 ml larutan iodosulfur  segar setara dengan 5 mg air, tetapi segera berubah . Maka pembakukan dilakukan dalam waktu 1 jam sebelum digunakan atau sehari jika digunakan tanpa terputus. Selama penetapan terlindung dari cahaya. Simpan larutan dalam wadah bersumbat kaca yang dilebur, terlindung dari cahaya dan di lemari es.
Larutan baku air Encerkan 2 ml dengam methanol mutlak P secukupnya hingga 1000,0 mL.Titrasi 25 ml larutan iodosulfur. Hitung  kadar air dalam mg per ml, dengan rumus :

                                                                        VF/25
                                                                       
V adalah volume laritan iodosulfur dalam ml,
F adalah  kesetaraan air terhadap larutan iodosulfur

Pembakuan Cara A Cara ini digunakan untuk penetapan kadar air kurang dari 1 % . Masukan 40 ml metanol mutlak P ke dalam labu titrasi. Titrasi  dengan larutan iodosulfur hingga titik akhir titrasi tercapai . Timbang sesama antara 150 mg dan 350 mg natrium tartat dihidrat P, masukan kedalam labu titrasi . Titrasi dengan larutan iodosulfur Hitung kesetaraan air terhadap larutan iodosulfur dalam mg per ml dengan rumus :






                                                            0,1566 W
                                                                 V


W adalah bobot natrium tartrat P dalam mg
V  adalah volume larutan iodosulfur dalam ml.

Cara B Masukan 40 ml metanol mutkal P ke dalam labu titrasi . Titrasi dengan larutan iodosulfur hingga titik akhir titrasi tercaoai. Timbang saksama antara 25 mg dan 250 mg air , masukkan kedalam labu titrasi . Titrasidengan larutan iodosulfur . Hitung kesetaraan air terhadap larutan iodosulfur dengan rumus;

W
V
                                                                       
W adalah bobot air dalam mg.
V adalah volume larutan iodosulfur dalam ml.

Cara Kecuali dinyatakan lain, lakukan titrasi langsung dengan cara berikut : Masukkan  lebih kurang 40 ml metanol mutlak P ke labu titrasi. Titrasi  dengan larutan iodosulfur hingga titik akhir tercapai titrasi tercapai, tanpa mencatat volume larutan iodosulfur yang digunakan. Masukkan segera sejumlah zat uji yang ditimbang saksama yang di perkirakan mengandung 10 mg sampai  250 mg ke dalam air labu titrasi , aduk kuat-kuat. Titrasi dengan larutan iodosulfur. Hitung bobot air dalam mg dengan rumus :

V X F

V adalah volume larutan iodosulfur pada titrasi kedua,
F adalah kesetaraan  air terhadap larutan iodosulfur.
Titrasi tidak langsung  Masukan lebih kurang 40 ml metanol mutkal P ke dalam labu titrasi. Titrasi dengan larutan iodosulfur hingga titik akhir titrasi tercapai, tanpa mencatat volume larutan iodosulfur yang di gunakan. Masukan segera sejumlah zat uji yang di timbang saksama yang diperkirakan mengandung 10 mg sampai 250 mg air, campur, Tambahkan larutan iodosulfur berlebih yang di ukur saksama, biarkan selama beberapa waktu hingga reaksi sempurna. Titrasi kelebihan larutan iodosulfur dengan larutan baku air. Hitung bobot air dalam mg dengan rumus :

FV1- aV2

F adalah kesetaraan air terhadap larutan iodosulfur,
V1 adalah volume larutan iodosulfur dalam ml yang di ukur saksama,
a adalah  kadar air larutan baku air dalam mg per ml.
V2 adalah volume larutan baku air dalam ml.



ll. CARA DESTILASI


Alat

A labu bulat volume 500 ml; B alat penampung; C  pendingin  panjang 400cm, diameter dalam lebih kurang 8 mm; D tabung penyambung, panjang 235 mm sampai 240 mm, diameter dalam 9 mm sampai 11 mm; E tabung penerima , kapasitas 5 ml , panjang 96 mm sampai 156 mm; pemanas, pemanas listrik yang suhunya dapat diatur atau tangas minyak.

Pereaksi Toluen Sejumlah toluene P kocok dengan sedikit air, biarkan memisah, buang lapisan air.

Cara Masukan sejumlah zat uji yang ditimbang saksama yang diperkirakan  mengandung 2 ml sampai 4 ml air ke dalam labu. Jika zat uji berupa massa lembek, timbang pada sehelai kertas aluminium dengan ukuran yang sesuai dengan mulut labu. Untuk zat yang menyebabkan gejolak mendadak, tambahkan pasir kering bersih secukupnya hingga menutupi dasar labu atau sejumlah tabung kapiler yang salah satu ujungnya dileburkan, panjang lebih kurang 100 mm. masukan lebih kurang 200 ml toluene P ke dalam labu, hubungkan alat. Tuangkan toluene P kedalam tabung penerima E melalui alat pendingin. Panaskan labu hati-hati selama 15 menit.

Setelah toluene mulai mendidih, suling dengan kecepatan lebih kurang 2 tetes tiap detik, hingga sebagian besar air tersuling. Kemudian naikan kecepatan penyulingan hingga 4 tetes tiap detik, setelah semua air tersuling, cuci bagian dalam pendingin dengan toluene, sambil dibersihkan dengan sikat tabung yang di sambung pada sebuah kawat tembaga dan telah di basahi dengan toluene. Lanjutkan penyulingan hingga 5 menit. Biarkan tabung penerima mendingin hingga suhu kamar. Jika ada tetesan air yang melekat pada dinding tabung penerima, gosok dengan karet yang diikat pada sebuah kawat tembaga dan dibasahi dengan toluene hingga tetesan air turun. Setelah air dan toluene memisah sempurna, baca volume air. Hitung kadar air dalam %.   


 Pustaka  : FI 3 Hal 815-817